Woensdag, 06 Maart 2013

Qana'ah Dalam Kehidupan Manusia

Qana'ah dalam Kehidupan Manusia
(Cara menerima anugerah Allah SWT)
Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami. Dalam bahasa jawanya : “nerimo ing pandum”. Secara Istilahi diartikan menerima dengan ketulusan hati atas apa yang telah Allah rezekikan kepada kita, dengan mengambil manfaat sekadar keperluan sebagai jalan untuk melakukan ketaatan kepada sang Khalik [melakukan kewajiban yang telah di perintahkan, dan menjauhi larangan-Nya]. Karena sejatinya Qonaah seperti yang sering diungkapkan para ulama:
وَاْلقَانِعُ غَنِيٌّ وَلَوْ كَانَ جُوْعًا


Bahwa orang-orang yang mampu dan dapat menerima apa adanya dari Allah atas rezeki-Nya, termasuk golongan orang-orang yang kaya(hati,sifat,dan perbuatan), walaupun suatu saat dia merasakan kelaparan secara fisik.

Dalam sudut pandang tertentu, qonaah sering disalah artikan sehingga menjadi pemicu sebuah kemunduran, terganjalnya proses perkembangan seseorang ke tingkatan yang lebih baik/tinggi dalam berbagai aspek kehidupan.

Memang tidak salah kalau qonaah diartikan menerima apa adanya, tapi tidak berhenti sampai disini. Sikap qonaah menuntut siapa saja untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara wajar dan tidak melampaui batas. Selanjutnya diperlukan adanya syukur, tasyakkur dan tafakkur. Syukur sebagai perwujudan menerima apa adanya atas karunia Tuhan, tasyakkur merupakan cerminan dari kelapangan hati dan kesabaran, sedangkan tafakkur sebagai wujud evaluasi diri untuk mengubah pola hidup yang selama ini ‘mungkin’ telah jauh menyimpang.

Contoh kecilnya di saat kita sedang merintis usaha, membuka perniagaan dan suatu ketika barang/jenis perniagaan yang kita jual sedang mengalami penurunan drastis. Dalam kondisi seperti ini, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah: Ikhlas, kemudian bersyukur, “Alhamdulillah, dengan kesempitan ini Ya Allah Engkau ingatkan aku, Kau jadikan aku lebih mendekat kepada-Mu”. Langkah selanjutnya adalah tafakkur: Evaluasi.

Kenapa orang-orang seakan menjauh dari tokoku, apakah karena tempat ini terlalu kotor sehingga tidak menarik keinginan para pembeli, apa karena harga jualku terlalu mahal, atau barangkali dari pelayanan kita yang tidak disukai pembeli???Evaluasi ini dilakukan sehingga dari situ lahirlah perbaikan-perbaikan, yang akan membawa dua manfaat sekaligus; Ibadah kita semakin tenang (khusyu’), urusan dunia semakin lancar dengan tidak menyalahkan orang lain.

Salah satu sebab yang membuat hidup ini tidak tentram adalah terpedayanya diri kita kepada kecintaan akan harta dan dunia. Orang yang terpedaya harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, dalam dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah Sang Maha Pemberi rezeki.

Orang-orang yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk berburu segala keinginannya, meski harus menggunakan segala cara: licik, bohong, atau mengurangi timbangan. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian. Ketentraman hidup sesungguhnya hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap harta dan dunia, sekecil dan sebesar apa pun harta yang dimilikinya. Orang yang qanaah hidupnya senantiasa bersyukur. Makan dengan garam akan terasa nikmat tiada terhingga, karena ia tidak pernah berpikir tentang daging yang tiada di hadapannya. Makan dengan sayur kangkung atau daging akan sangat disyukurinya. Ia pun akan berusaha untuk membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, karena ia ingat pada orang-orang yang hanya bisa makan dengan garam saja.

Bukan Fatalis


Meski demikian, orang-orang yang memiliki sikap qanaah tidak berarti fatalis (menerima nasib begitu saja) tanpa ikhtiar. Orang-orang qanaah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, bahkan memiliki banyak sekali perusahaan, namun semua itu bukan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan dan dunia yang dimilikinya ia sikapi dengan rambu-rambu Allah SWT, sehingga apa pun yang dimilikinya tidak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi rezeki.

Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang qanaah menyikapinya sebagai sebuah ibadah yang mulia di hadapan Allah Yang Mahakuasa, sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong, ataupun mengurangi timbangan. Karena ia yakin, tanpa menghalalkan segala cara pun ia tetap akan mendapatkan rezeki yang dijanjikan Allah. Ia menyadari, posisi rezeki yang dicarinya tidak akan melebihi dari tiga hal. Pertama, rezeki yang ia makan hanya akan menjadi kotoran. Kedua, rezeki yang ia pakai hanya akan menjadi benda usang. Ketiga, rezeki yang ia nafkahkan(Shodaqah) akan bernilai di hadapan Allah. Karenanya, ia pun lebih dahulu mementingkan seruan Rabbnya: "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru kepada kamu sekalian untuk melakukan shalat di Hari Jumuah, bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu sekalian mengetahuinya" (QS. Al-Jumu'ah:9)

Tetapi jika ia telah sampai pada keadaan itu, ia juga tidak lantas terjebak dengan kenikmatan berkhalwat dengan Allah, karena ia menyadari, masih ada aturan Allah yang mewajibkannya untuk beraktivitas kembali.

"Dan apabila telah selesai melaksanakan shalat, maka bertebaranlah kamu semua di muka bumi dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu sekalian beruntung" (QS. Al-Jumu'ah:10).

Niat yang lahir dari hati orang-orang yang qanaah ketika melakukan aktivitas pencarian dunia bukan didasarkan pada penumpukan kekayaan untuk ia nikmati sendirian, namun benar-benar didasarkan pada ibadah. Orang-orang qanaah akan mencari harta dan dunia untuk membekali dirinya agar lebih kuat dalam beribadah. Ia akan berpikir, bukankah Allah lebih mencintai mukmin yang kuat dibanding mukmin yang lemah?

Pencarian harta dan dunia yang dilakukannya juga dimaksudkan untuk menafkahi keluarganya agar tidak terjatuh pada jurang kefakiran, menyantuni orang lain, dan agar tidak membebani orang lain ketika Allah menimpakan kesulitan kepada dirinya. Ia akan terus teringat:

كََادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

“Kefakiran dapat mendekatkan diri pada kekufuran.”

Niat orang-orang qanaah ketika mencari harta juga didasarkan pada keharusannya menguasai ilmu pengetahuan. Ia tidak akan pernah merasa sayang dengan harta dan dunia sepanjang ia menggunakannya untuk makin bertambahnya ilmu pengetahuan. Ia yakin, hanya dengan memiliki ilmulah ia dan keluarganya akan merasa tentram dalam beribadah dan bermuamalah.

Qana’ah (rela atas segala pemberian Allah SWT), adalah suatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi orang yang diberikan taufiq dan mendapat petunjuk serta dijaga oleh Allah Yang MahaKuasa dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadaan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta. Namun, meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah.

Berikut ada beberapa kiat menuju qana’ah,yaitu:

1. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT

2. Yakin bahwa rizki telah tertulis

Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana hadits dari Ibnu Mas’ud RA, disebutkan sabda Rasulullah SAW:

ثُمَّ يُبْعَثُ اِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُؤْذَنُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيَكْتُبُ رِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَعَمَلَهُ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيْدٌ

“Kemudian Allah SWT mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

3. Memikirkan Ayat-Ayat Allah

Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah yang apabila aku membacanya di sore hari,maka aku tidak akan peduli atas apa yang akan terjadi padaku sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari, maka aku tidak akan peduli dengan apa Aku akan berpagi-pagi, ayat-ayat itu diantaranya:

a. Surah Fathir : 2

مَايَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

2. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, Maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah Maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

b. Surah Yunus ayat: 107

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ اِلاَّ هُوَ وَاِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَادَّ لِفَضْلِهِ

يُصِيْبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

107. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

c. Surah Huud ayat: 6

وَمَامِنْ دَابَّةٍ فِى اْلاَرْضِ إِلاَّ عَلىَ اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِىْ كِتَابٍ مُّبِيْنٌ

6. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

d. Surah Asy-Syuura ayat 27:

وَلَوْ بَسَطَ اللهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِى اْلاَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ

27. Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat.

e. Surah Ath-Thalaq : 7

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ , وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا ءَاتَاهُ اللهُ, لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا ءَاتَاهَا سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

7. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rezeki

Diantara hikmah Allah menentukan perbedaan rezeki dan tingkatan seorang hamba dengan lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar-menukar manfaat, tumbuh aktifitas perkonomian, serta agar antara satu dengan yang lain saling memberikan pelayanan dan jasa.

5. Banyak memohon doa kepada Allah SWT semoga kita selalu qonaah.

Rasulullah adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah diberikan rasa qana’ah, beliau berdoa:

“Ya Allah berikan Aku sifat qana’ah terhadap apa yang telah engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim)

Dan karena saking qana’ahnya beliau tidak meminta kepada Allah melainkan sekedar cukup untuk kehidupan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau:

مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيْكَ وَيَمْنَعُكَ مَا يُطْغِيْكَ

Setengah daripada kesempurnaan nikmat Allah: berikanlah rezeki kepada kami(Muhammad SAW) hanyalah cukup sesuai dengan keperluan pokok saja, dan jauhkanlah apa yang bisa menyebabkan Engkau tidak ridlo dari atas apa karunia-Mu.

6. Menyadari bahwa rizki tidak diukur dengan kepandaian

Kita harus menyadari bahwa rezeki seseorang itu tidak bergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktifitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab datangnya rizki, namun bukan ukuran secara pasti.

Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rezeki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri. Sebagaimana dalam surah Az-Zumar ayat: 49, dijelaskan:

فَإِذَا مَسَّ اْلاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوْ تِيْتُهُ عَلىَ عِلْمٍ,

بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَّلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ

49. Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

7. Melihat ke bawah dalam hal dunia

Dalam urusan dunia hendaknya kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada orang yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Rasulullah:

أُنْظُرْ إِلىَ مَنْ هُوَ تَحْتَكَ, وَلاَ تَنْظُرْ إِلىَ مَنْ هُوَ فَوْقَكَ, فَإِنَّهُ أَجْدَرَلَكَ أّلاَّ تَزْدَرِيْ نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكَ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya.

8. Membaca kehidupan para shahabat dan orang-orang terdahulu

Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperoleh harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih memerlukannya.

9. Menyadari betapa beratnya pertanggungjawaban harta

Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemiliknya jika dia tidak mendapatkannya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula. Ketika seorang hamba ditanya tentang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab 2 kali, yakni dari mana dia dapat dan kemana dia belanjakan.

Hal ini menunjukan betapa beratnya orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibandingkan orang yang lebih sedikit hartanya.

10. Melihat realita bahwa orang fakir dan orang kaya tidak jauh berbeda

Karena orang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan oleh orang fakir. Tidak mungkin si kaya makan lebih dari 50 piring, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan si kaya memiliki seratus potong baju maka si kaya hanya memakai sehelai baju saja, bukankah hal ini sama dengan yang dipakai oleh orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak ia manfaatkan maka itu relative (nisbi).

Sungguh indah apa yang diucapkan sahabat rasul Abu Darda RA: “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian dan kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kamipun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedangkan kita terbebas darinya.”

Dengan demikian, semoga dalam mengarungi kehidupan di alam yang fana ini, kita senantiasa diberikan rasa qanaah atas segala limpahan karunia-Nya, serta di hindarkan dari perbuatan rakus yang pada akhirnya dapat terjerumus ke dalam siksa-Nya.

Wallahu A’lam.

Ibnu Dahlan el-Madary
Heningnya Embun Pagi meduri,03:19,15122011

Sholli Ala Muhammad Wa Aalihi

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking